RASULULLAH SAW suatu ketika memberitahukan perihal keistimewaan Lailatul Qadar (malam kemuliaan) yang penuh berkah itu sebagai berikut: dahulu pernah ada seorang lelaki Bani Israil yang selama seribu bulan berjihad di jalan Allah dengan pedangnya. Karena umur umat Nabi Muhammad SAW tidak ada yang selama itu, Allah menurunkan ayat Alquran yang menerangkan mengenai malam kemuliaan
"Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Kemuliaan itu lebih baik ketimbang seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS. al-Qadar: 1-5). Al Qadar secara bahasa berarti kemuliaan atau tempat (kedudukan) yang tinggi. Ia sinonim dengan takdir (ketentuan) dan memakai kedua-duanya sama-sama dibenarkan. Al Qadar merupakan tempat Allah untuk menentukan segala urusan dalam setiap tahun. Firman Allah: "Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmat". (QS. ad-Dukhan: 3-4). Seribu bulan lebih lama dari pada delapan puluh tiga tahun (rata-rata umur manusia). Melakukan ibadah pada malam itu, pahalanya sama dengan melakukan ibadah seumur hidup. Tentu saja ini merupakan keistimewaan. Karena itulah Rasulullah menjadi orang yang paling antusias beribadah pada malam itu. Beliau rajin melakukan iktikaf di masjid, seraya melepas diri dari segala kesibukan kehidupan dunia. Sabda beliau, "Barang siapa melakukan ibadah pada malam kemuliaan karena iman dan mencari rida Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu". Satu hal yang perlu diperhatikan mengenai keistimewaan Lailatul Qadar, yaitu Allah memuliakan seorang dengan memberikan cahaya petunjuk pada malam itu. Karena itu, gelapnya kesesatan menjadi lenyap. Pada malam itu, Allah menghidupkan hati manusia yang melakukan amal-amal saleh. Malam itu, seakan bumi dan langit bertemu dan para malaikat turun, termasuk Jibril. Satu lagi keistimewaan malam kemuliaan tersebut. Kalau peristiwa turunnya malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW dengan membawa wahyu sudah tidak lagi terjadi, maka pada malam kemuliaan itu seakan-akan merupakan rekontruksinya, yaitu demi pembaruan kesejahteraan rohani umat manusia. Jika Jibril pada zaman Nabi turun dengan membawa wahyu dan syariat Islam, maka pada malam kemuliaan itu beliau turun lagi setelah mendapat izin dari Tuhannya untuk mengatur segala urusan penghuni bumi (manusia) yang berlangsung rentang satu tahun ke depan. Para malaikat pun ikut turun dengan membawa segenap kesejahteraan. Pada malam itu, seolah-olah seluruh dunia tengah berjaga menyambut tanda-tanda kesejahteraan, kedamaian, kebajikan, dan keselamatan.
Lailatul Qadar (Malam Kemuliaan)
ReplyDeleteRASULULLAH SAW suatu ketika memberitahukan perihal keistimewaan Lailatul Qadar (malam kemuliaan) yang penuh berkah itu sebagai berikut: dahulu pernah ada seorang lelaki Bani Israil yang selama seribu bulan berjihad di jalan Allah dengan pedangnya. Karena umur umat Nabi Muhammad SAW tidak ada yang selama itu, Allah menurunkan ayat Alquran yang menerangkan mengenai malam kemuliaan
"Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Kemuliaan itu lebih baik ketimbang seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS. al-Qadar: 1-5).
Al Qadar secara bahasa berarti kemuliaan atau tempat (kedudukan) yang tinggi. Ia sinonim dengan takdir (ketentuan) dan memakai kedua-duanya sama-sama dibenarkan. Al Qadar merupakan tempat Allah untuk menentukan segala urusan dalam setiap tahun. Firman Allah: "Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran pada suatu malam yang diberkati, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberikan peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmat". (QS. ad-Dukhan: 3-4).
Seribu bulan lebih lama dari pada delapan puluh tiga tahun (rata-rata umur manusia). Melakukan ibadah pada malam itu, pahalanya sama dengan melakukan ibadah seumur hidup. Tentu saja ini merupakan keistimewaan. Karena itulah Rasulullah menjadi orang yang paling antusias beribadah pada malam itu. Beliau rajin melakukan iktikaf di masjid, seraya melepas diri dari segala kesibukan kehidupan dunia. Sabda beliau, "Barang siapa melakukan ibadah pada malam kemuliaan karena iman dan mencari rida Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu".
Satu hal yang perlu diperhatikan mengenai keistimewaan Lailatul Qadar, yaitu Allah memuliakan seorang dengan memberikan cahaya petunjuk pada malam itu. Karena itu, gelapnya kesesatan menjadi lenyap. Pada malam itu, Allah menghidupkan hati manusia yang melakukan amal-amal saleh. Malam itu, seakan bumi dan langit bertemu dan para malaikat turun, termasuk Jibril.
Satu lagi keistimewaan malam kemuliaan tersebut. Kalau peristiwa turunnya malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW dengan membawa wahyu sudah tidak lagi terjadi, maka pada malam kemuliaan itu seakan-akan merupakan rekontruksinya, yaitu demi pembaruan kesejahteraan rohani umat manusia.
Jika Jibril pada zaman Nabi turun dengan membawa wahyu dan syariat Islam, maka pada malam kemuliaan itu beliau turun lagi setelah mendapat izin dari Tuhannya untuk mengatur segala urusan penghuni bumi (manusia) yang berlangsung rentang satu tahun ke depan. Para malaikat pun ikut turun dengan membawa segenap kesejahteraan. Pada malam itu, seolah-olah seluruh dunia tengah berjaga menyambut tanda-tanda kesejahteraan, kedamaian, kebajikan, dan keselamatan.